HUKUM ACARA ARBITRASE DI INDONESIA


 Penulis : Dr. Desri Novian, SH., MH.

EISBN :  62-2678-7706-374


Hukum acara merupakan   ketentuan   yang   mengatur   tentang   tata   cara penegakan hukum  materiil  dan  bersifat  tekstual  dalam  artian aturannya tidak dapat dalam bentuk tidak tertulis dan tidak dapat ditafsirkan secara bebas, limitatif dengan pengertian hanya terbatas kepada uraian-uraian (terbatas) yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan serta bersifat imperatif dalam arti memaksa (tidak dapat disimpangi dan harus dipatuhi dalam pelaksanaannya). Sama dengan dengan tujuan utama hukum pada umumnya, hukum acara bertujuan untuk tercapainya keadilan yang berimbang kepada para  pihak  berperkara/bersengketa  dengan  dipandu  oleh  hakim dalam perkara umum dan oleh arbiter atau majelis arbitrase dalam penyelesaian sengekta arbitrase.

Hukum  Acara  Arbitrase  tersebar  dalam  instrumen  hukum arbitrase   yang   diberlakukan   secara   internasional,   undang- undang arbitrase di negara tertentu serta hukum acara perdata dari negara  tersebut.  Meskipun  tersebar  dalam  beberapa  instrumen hukum dan dalam arbitrase para pihak diberi kebebasan untuk menentukan  hukum  acara  yang  akan  dipergunakan,  namun didasarkan kepada asas lex arbitri, hukum acara arbitrase akan tunduk dan sepenuhnya mengikuti ketentuan hukum acara perdata dari  negara-negara  yang  mengakui  eksistensi  arbitrase.  Seperti halnya di Indonesia, beberapa ketentuan dalam UU No. 30 Tahun 1999 khususnya dalam Penjelasan Pasal 33 huruf a, Pasal 37 ayat (3), Penjelasan Pasal 43 dan Pasal 69 ayat (3) dapat ditafsirkan bahwa dalam pemeriksaan sengketa arbitrase di Indonesia, tunduk dan mengikuti ketentuan yang berlaku dalam hukum acara perdata Indonesia (HIR, Rbg, RV).

Demikian  juga  halnya  dalam  pelaksanaan  Putusan  Arbitrase nasional atau dalam pengakuan dan pelaksanaan Putusan Arbitrase internasional, berdasarkan Pasal 64 dan Pasal 69 ayat (3) UU No. 30 Tahun 1999 sepenuhnya mengikuti ketentuan hukum acara perdata Indonesia.  Ketentuan  hukum  acara  perdata  Indonesia  juga sepenuhnya  berlaku  dalam  proses  hukum  pembatalan  Putusan Arbitrase sebagaimana diatur dalam Pasal 70 UU No. 30 Tahun 1999.

Pengalaman  panjang  Penulis  dalam  penyelesaian  sengketa arbitrase  di  Indonesia  memberikan  pemahaman  bahwa  adalah sesuatu yang mendasar akan pentingnya pemahaman yang baik terhadap hukum acara perdata, baik bagi praktisi-praktisi hukum yang  menangani  sengketa  arbitrase  maupun  arbiter-arbiter. Demikian juga kepada pengusaha-pengusaha yang sering memilih arbitrase  sebagai  mekanisme  penyelesaian  sengketa  yang mungkin terjadi di antara mereka. Karenanya, buku Hukum Acara Arbitrase di Indonesia diharapkan tidak hanya bermanfaat kepada praktisi arbitrase, arbiter, ataupun pengusaha-pengusaha, tetapi juga diharapkan   dapat   memberikan   sumbangan   berarti   bagi pengembangan mata kuliah  Hukum Acara Arbitrase di Indonesia yang dapat mulai diajarkan kepada mahasiswa fakultas hukum di universitas-universitas yang ada di Indonesia.

Untuk  tujuan  perkembangan  keilmuan  di lingkungan akademis, khususnya kajian Hukum Acara Arbitrase di Indonesia, buku Hukum Acara Arbitrase di Indonesia ini kiranya dapat menjadi diskursus akademik sehingga materi perkuliahan di bidang hukum arbitrase dapat dikembangkan ke dalam beberapa mata kuliah yakni : Hukum Materiil  Arbitrase  (arbitration  substantive  law),  Hukum  Formil Arbitrase atau Hukum Acara Arbitrase (arbitration procedural law), Hukum Pengakuan dan Pelaksanaan Putusan Arbitrase (recognized and enforcement of arbitral award), dan Hukum Pembatalan atau Pengenyampingan Putusan Arbitrase (set a side or annulment to arbitral award).

Kirim Inbox ke Admin

Kirim